Minggu, 22 Juni 2014

Note For You, Sahabat...


                Aku tidak pandai merangkai kata, apalagi membual dalam kalimat. Aku menulis ini dengan sangat terpaksa. kufikir inilah satu-satunya jalan agar dia bisa medengar semua yang ingin kukatakan tanpa menyela sedikitpun. Aku menulis ini untuk sahabatku, untuk menceritakan secuil kisah yang ia lewatkan. Tentang aku, dia, dan kekasihnya.
***
                Sahabat, kita kenal lumayan lama. Cukuplah untuk tau karakter masing-masing dari kita. tapi jujur saja, sekarang aku sama sekali tidak kenal siapa kamu, dan apa yang sebenarnya terjadi diantara kita.
                Aku tau, kamu sakit ketika tau bahwa aku dan kekasihmu pernah dekat. Dan atas dasar itulah kamu membenciku, kamu tak hentinya menyindir lewat akun sosial media, mengatakan kalau aku ‘cewek Gatal’ lah, apalahh… tapi sahabat, kamu tau tidak apa yang sebenarnya terjadi ? apa dia pernah menceritakan yang sebenarnya ? Tidak ? tentu saja, karena dia takut. 
***
                Awalnya hubungan kita semua baik-baik saja, jalan-jalan bareng kita rame-rame, makan siang bareng, ngumpul-ngumpul bareng… semuanya baik-baik saja. Sampai ada undangan baru di BBMku yang ternyata itu adalah kekasihmu. Aku sama sekali tidak berfikir aneh-aneh, aku langsung aja menerimanya, toh kita emang sering ngumpul bareng kan ? justru aneh rasanya kalau aku tidak menerima undangan pertemannya.
                Singkat cerita, dia selalu memberi komentar disetiap Update2-an terbaruku. Entah itu status ataupun Display pictureku. Aku masih menganggap itu wajar aja, toh kita emang kenal. Sampai akhirnya mulai terasa ada yang aneh ketika dia sudah mulai memberi perhatian-perhatian khusus padaku. kadang aku mulai ragu juga membalas chat-nya, aku takut apa yang aku fikirkan barusan itu benar-benar terjadi. Ya, aku takut kalau akan ada yang special yang terjadi.
                Dan benar saja, malam itu dia nge-chat aku. obrolan kita mengalir seperti biasa, tapi lama kelamaan dia mulai membuka forum yang sama skali tidak pernah kuduga. Dari situ baru aku tau kalau ternyata dia udah mulai memperhatikanku sejak beberapa bulan sebelum kita benar-benar akrab. Dia sudah sering memperhatikan gerak-gerikku, profesiku sebagai penyiar radio justru memudahkan dia mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. dan aku sama sekali tidak menyadari ‘Pengintaian’ itu !
                Malam itu dia mengatakan yang sejujurnya, Ia mengungkapkan isi hatinya. Dengan sangat berat tentunya, karena posisinya yang sudah menjadi pacarmu yang memberatkan dia. Bahkan setelah dia mengungkapkan perasaannya dia langsung minta izin untuk menghapus pertemanan BBMku dengannya. Aku Setuju ! Sangat setuju ! karena aku sadar apa yang akan terjadi jika ini tetap berlanjut. Sama skali tak pernah terfikirkan kalau dia akan sampai mengungkapkan perasaannya seperti itu, sempat kaget juga sih… tapi dia selalu bilang “Yahh, mau diapain lagi ? yang seperti ini bukan kita yang minta”.
                Well, akhirnya hubungan kita terhenti sampai setelah dia mengungkapkan perasaannya. Setelah itu kita tidak saling berhubungan. Dan aku ? aku dari awal tidak pernah merasakan apa-apa.

                Sampai waktu kita bertemu kembali di acara Bazaar disebuah warkop. Saat itu tidak ada yang aneh, aku enjoy aja seperti tak pernah terjadi apa-apa. Diapun sama. Waktu itu aku harus pulang lebih awal. Karena jam malamku yang sangat terbatas. Tapi siapa sangka, saat aku berada diparkiran motor dia mengucapkan pesan singkat “Terima lagi Inviteku nahh… “ dan well, aku sih positive thinking aja, kirain dia udah sadar kalau apa yang dia rasakan itu salah. Jadi yaa aku ‘Iya’kan aja.
                Diluar dugaanku, ternyata dia semakin menjadi-jadi. Dia mengatakan betapa tidak nyamannya dia ketika berhari-hari tak tau kabarku. Dan saya semakin sadar seharusnya ini benar-benar tak pernah terjadi. Seharusnya dia tidak membiarkan apa yang ia rasakan tumbuh semakin besar terhadapku. Tapi sekali lagi, tiap kali aku memperingatkannya betapa salahnya apa yang ia lakukan, Ia selalu menjawab dengan jawaban yang sama “Maumii diapaa… yang seperti ini bukan kita yang minta”.
                Hari itu, dia ngajak keluar, katanya ada yang ingin dia ceritakan. Dan kebetulan ada yang ingin aku katakan juga. Jadi aku setuju. Dan akhirnya kita nongkrong aja di warkop. Waktu itu aku ingin mengatakan kalau kita harus berhenti sampai disini, aku benar-benar tidak ingin melanjutkan kedekatan yang ganjal ini. Aku tidak ingin hanya karena perasaan konyol yang seharusnya Ia matikan malah merusak persahabatan kita. Tapi aku belum sampai pada kata intiku ketika dia mulai menceritakan bagaimana sebenarnya hubungan kalian, bagaimana sebenarnya yang ia rasakan selama menjalin hubungan denganmu, apa yang ia rasakan, dan apa yang bergetar ketika ia mulai mengenalku.
                Ia juga menceritakan hubungannya dengan mantannya yang telah berjalan 7 tahun lamanya sebelum kamu. Dia menceritakan betapa dulu ia sangat menyayangi mantannya itu. Dan kini, setelah dia mengenalku, dia mengaku seperti menemukan kembali apa yang selama ini hilang. Apa yang selama ini membuat dia sangat menyayangi mantannya, yang tidak pernah ia dapatkan pada dirimu. Aku juga nggak tauu apa itu, tapi berkali-kali ia menekankan bahwa mengenalku seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Bahkan sempat terlontar kalimat bodohku “Apa yang membuatmu bahagia bersamaku ? tell me, then I would teach it to her”. Niatku, aku hanya ingin member tahumu apa yang membuat dia bahagia sehingga kamu juga bisa membuatnya bahagia. Tapi dia sama skali tidak memberitahuku.
                Sahabat, sejak awal aku tak pernah menginginkan situasi yang seperti ini. Aku tidak ingin ada rasa canggung ketika kita makan bersama di kantin, ketika kita bercanda bersama, ketika kamu curhat tentang dia ke aku… aku sama sekali tidak berharap dicintai dengan model yang seperti ini. Aku sama sekali tidak ingin dicintai dengan konsekuensi harus melukai sahabatku. Tapi seluruh kata-kataku tak mampu membuatnya sadar. Dan aku ? kamu fikir aku enak-enakan ? seumur hidup aku tidak pernah setakut ini menjalani sebuah hubungan, meskipun saat itu aku masih menganggap hubunganku dengannya hanya sebatas persahabatan.
Hari itu, di warkop, dia kembali menegaskan dan kembali mempertanyakan apa yang kurasakan terhadapnya. “Apa yang kurasakan ? dari awal aku tidak pernah merasakan apa-apa”.
Sahabat, berminggu-minggu aku bertahan diatas pendirianku untuk tidak luluh dengan perhatian-perhatian manis yang ia berikan. Berkali-kali kutegaskan padanya bahwa tak mudah mencairkan hati yang udah lama membeku. Aku berusaha untuk tidak menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Tapi sekeras apapun hati seorang wanita, jika terus disirami dengan perhatian manis seperti itu akankah ia bertahan ? akupun sama. Dan aku benar-benar membenci situasi seperti itu. Aku mulai terbawa arus yang tidak kuinginkan. Aku sudah berusaha menjauh, tapi ia selalu menemukanku. Sampai akhirnya aku tidak menemukan jalan untuk sembunyi lagi.
Berminggu-minggu rasanya aku seperti dihantui oleh rasa bersalahku, tiap kali dia menelfonku aku selalu menanyakan kabarmu tapi dia tak ingin membahasmu jika sedang bersamaku. Ketika kita bertemupun dia selalu marah kalau aku menanyakan kamu. Lalu apa yang harus aku lakukan sahabat ? aku sudah berusaha sekuat hatiku untuk menghindari situasi yang seperti ini. Aku terlalu takut untuk mengadu kepadamu, aku takut kamu terluka. Hingga akhirnya tak ada tempat lain untukku curhat selain ibuku. Ibukuu faham apa yang aku rasakan, ia mengerti bagaimana rasanya dicintai oleh pacar sahabat sendiri. Ia mengerti bimbangnya aku memilih jalanku. Sampai Ia memberi saran untuk menjalin kembali komunikasiku dengan Ahmad agar aku bisa melupakan dia. Dan aku mengikuti saran beliau, aku kembali menjalin komunikasiku dengan Ahmad, membuat hari-hariku sibuk memikirkan Ahmad, sampai akhirnya aku merasa aku sudah bisa mengatasi perasaanku yang mulai cair itu. karena aku sudah dapat kalimat kuncinya “Dia yang telah berpacar tapi masih bisa mengatakan cinta padamu, berarti dia juga akan berlaku sama ketika kau menjadi pacarnya”. Makanya, Meskipun ia semakin menjadi-jadi, aku tetap bertahan pada Ahmadku.
***
Sahabat, apa yang harus kulakukan ketika cinta datang kepadaku ? Bukan aku yang memanggilnya, tapi dia yang menemukanku. Apa yang harus disalahkan dari perasaannya ? Dia benar, “Yang seperti ini bukan kita yang minta”, tapi tidak bisakah dia mematikan rasanya dan hanya focus kepadamu ? Tidak bisakah ? atau tidak mau ? Apa yang kurang dari kamu ? bosankah dia dengan hubungan kalian ? tidak bahagiakah dia bersamamu ? sehingga ia memilih mencari kebahagiaannya diluar…
Pernahkah kau tanyakan Hal seperti itu kepadanya ?
Pernah kah ?
Sekali ?
Dua kali ?
Apa jawabnya ?
Atau kau tidak pernah bertanya ?
Kenapa ?
Kau tak ingin menerima kenyataan jangan sampai ia menjawab dengan jawaban yang tidak kau inginkan, iyakan ? karena kamu terlalu menyayanginya, dan kamu tidak ingin kehilangan dia. Aku tau itu, makanya aku hanya berusaha menjaga agar dia tidak pergi darimu.
Sahabat, sejak awal aku tidak pernah mengenal siapa dia. Aku tidak pernah mengenal seperti apa dia. Dan tiba-tiba dia hadir memberi perhatian-perhatian manis, memberi perlindungan, dan memberi rasa nyaman. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi tetap saja ia menemukanku. Dia dapat PIN BBku dari mana ? dari kamu katanya, Dapat nomorku dari mana ? bukan aku juga yg ngasih… Saya kah yang memulai kisah seperti ini ? Sayakah yang mondar-mandir mencari PIN BBnya ? Bukan ! sayakah yang mencari nomornya ? Bukan ! Sayakah yang mulai memperhatikannya ? Bukan ! sayakah yang mulai mendekat padanya ? Bukan !!! Lalu kenapa semua kesalahan kau limpahkan kepadaku ?
Sahabat, sejak awal dia mengungkapkan perasaannya aku sudah mengingatkan dia, “Aku tidak ingin persahabatanku hancur hanya karena perasaan konyolnya”. Dan sekarang apa yang terjadi ? kemana dia ? bertanggung jawabkah dia ? Duluu, dia sering bilang gini “Maaf, saya yang membuat keadaan jadi kacau begini. Maaf, saya yang membuat kamu ikut campur dalam keadaan seperti ini. Maaf... tapii maumi diapa, yang seperti ini bukan kita yang minta”. Itu ! itu yang sering dia ucapkan setiap kali aku menyalahkan perasaannya ! setiap kali aku minta dia mengembalikan keadaan seperti semula ! itu jawabannya !!!
Dan kemana dia sekarang ? pernahkah dia berusaha memperbaiki hubungan kita ?
Sejak kamu tau, dan sejak keadaan semakin kacau, aku tak pernah menganggapmu sebagai masalah. Masalahku Cuma dia ! Dia yang membuat silaturrahmi kita hancur ! tapi, entah apa yang kamu fikirkan, atau entah kamu berfikir atau tidak, aku benar2 tidak mengerti kenapa semua kesalahan kau limpahkan kepadaku !
Aku sih wajar aja kamu seperti itu, karena aku tau betapa kamu sangat menyayanginya. Jadi kamu masa bodoh dengan kesalahannya, yang kamu tau “Ada SAYA untuk tempatmu melampiaskan sakit hatimu”. Oke fine… mungkin kamu belum mendapatkan mata pelajaran yang mengatakan bahwa “Pacarmu bukan Tuhanmu yang Maha Benar, pacarmu bukan sahabatmu yang akan tetap disampingmu bagaimanapun keadaanmu, pacarmu bukan orang tuamu yang akan tetap menyayangimu sampai akhir hayatmu”.
Tapi sampai kapan kau biarkan cintamu membutakanmu ? Sampai silaturrahmi kita benar-benar putus ?
***
Maaf kalau kedekatan yang tidak kuinginkan itu membuatmu terluka,
Maaf telah banyak berkata kasar kepadamu,
Maaf telah membuat kita jadi seperti ini…
Apapun yang telah kamu katakan kepadaku, apapun telah yang kamu tuduhkan, Aku maafkan !
Dan Terimakasih telah memberi tahu aku orang seperti apa dia…
Terimakasih telah mengajarkan aku banyak hal tentang cinta dan persahabatan…
Terimakasih telah membuatku mengerti apa yang lebih berharga antara cinta dan sahabat…
Terimakasih telah memberi kesempatan untukku lebih dewasa…


Dari sahabat yang tak pernah kau dengar ceritanya, 
yang hanya ingin menyambung tali itu lagi...